Kritikan atau hanya Sekedar Film Kartun? Review Film Ferdinand (2017)

Tahun 2017 ini, Disney merilis film kartun dengan tema budaya suatu negara. Setelah Coco dengan latar kisah The Day of Dead, Disney merilis Ferdinand, film kartun dengan latar budaya bullfighting (Tauromachy) atau adu banteng di Spanyol. Indonesia kapan dibikin kartun Disney ya? Mungkin tentang Reog Ponorogo, Tari Barong, atau Omed-omedan :p (Hahaha forget it)

ferdinand el primero
Ferdinand dan El Primero di arena / Gambar via movieforkids.it

So, cerita dimulai ketika Ferdinand masih kecil dan tinggal di peternakan. Tidak seperti banteng pada umumnya, Ferdinand (John Cena / Colin H. Murphy (Ferdinand kecil)) lebih suka dengan kelembutan dan kasih sayang, terutama pada bunga. Banteng-banteng kecil lain, seperti Valiente (Bobby Cannavale / Jack Gore (Valiente kecil)) yang sangat membenci Ferdinand, Guapo (Peyton Manning / Jet Jurgensmeyer (Guapo kecil)), serta si banteng kurus bernama Bones (Anthony Anderson / Nile Diaz (Bones kecil)). Mereka selalu membully Ferdinand. Ayah Ferdinand, Raf (Jeremy Sisto), adalah banteng terbesar dan terkuat di Casa del Toro. Ayah Valiente pun membenci Raf, termasuk juga Ferdinand.

Semua banteng ingin dipilih oleh sang matador karena mereka pikir banteng yang terpilih adalah banteng juara. Dan pada suatu hari, Raf terpilih untuk mengikuti bullfighting melawan matador. Sejak saat itu pula, Raf tidak pernah kembali lagi ke Casa del Toro.

Ferdinand menyadari hal tersebut dan ia kabur dari Casa del Toro. Beruntung ada kereta yang sedang lewat sehingga Ferdinand langsung naik ke kereta tersebut, hingga sampailah Ferdinand ke sebuah desa dan ditemukan oleh Nina (Lily Day). Nina tinggal bersama ayahnya, Juan (Juanes), seorang petani bunga, dan anjingnya yang bernama Paco (Jerrod Carmichael). Ferdinand diterima dengan senang hati, begitu juga Ferdinand yang senang karena banyak bunga di rumah Nina.

Nina dan Juan merawat Ferdinand hingga Ferdinand tumbuh menjadi banteng yang besar. Ini gede banget, beneran gede!

Hari ini adalah hari festival bunga, Ferdinand yang biasanya selalu ikut setiap tahun, tahun ini tidak bisa ikut karena ukurannya sudah sangat besar. Nina dan Juan melarang Ferdinand ikut. Tapi kemudian, Ferdinand menyusul mereka ke festival.

Banteng keras kepala ini akhirnya mengacaukan festival. Sebenarnya bukan maksud Ferdinand mengacaukan festival, tapi karena badannya yang super besar itu, nyenggol kesana kesini, akhirnya kacau deh. Polisi akhirnya menangkap Ferdinand dan membawa Ferdinand ke Casa del Toro.

Di Casa del Toro, Ferdinand kembali bertemu dengan teman-teman masa kecilnya yang sudah besar. Ditambah lagi anggota baru mereka, yaitu Angus (David Tennant) dan banteng hasil buatan laboratorium, Maquina (Tim Nordquist).

Masalah besar muncul ketika El Primero (Miguel Ángel Silvestre), sang juara bullfighting, mencari banteng yang kuat untuk ia bertanding di Casa del Toro. Guapo tumbuh menjadi banteng yang besar dan kuat, tapi tetap sering nervous dan muntah ketika melihat El Primero. Valiente yang selalu menyombongkan diri, tidak lebih besar dari Guapo, bahkan bisa dibilang bantet. Angus tidak dapat melihat dengan baik karena matanya tertutup bulu. Bones tetap menjadi banteng kurus yang tidak bisa diandalkan. Maquina, entah banteng ini bisa apa.

Ferdinand tidak ingin bertarung dan ia tau apa yang akan terjadi pada petarung, mereka semua akan mati, bukan menjadi jaura seperti apa yang dibicarakan. Akhirnya, Ferdinand melancarkan misi penyelamatan diri dan mengajak teman-teman bantengnya. Oh iya, di Casa del Toro, Ferdinand bertemu dengan kambing pelatih banteng bernama Lupe (Kate McKinnon).

Ferdinand melancarkan aksi penyelamatan diri itu dibantu dengan kawanan landak bernama Dos (Daveed Diggs), Cuatro (Gabriel Iglesias), dan Una (Gina Rodriguez). Tentu saja Moreno (Raúl Esparza), pemilik Casa del Toro mengejar Ferdinand dan teman-temannya. Yakali bantengnya lepas semua nggak dikejar.

Sampai pada akhirnya mereka tiba di sebuah stasiun kereta. Dan entah kebetulan banget, yah namanya juga kartun ya, ada kereta yang bisa membawa mereka ke desa tempat Nina tinggal. Tapi, Ferdinand sengaja tidak ikut naik ke kereta karena ia merasa harus berada di pertandingan bersama El Primero.

Sampai pada waktu pertandingan, Ferdinand sudah dipersiapkan dan harus bertanding dengan El Primero. Tapi ketika di arena, Ferdinand justru diam dan tidak mau melawan. Hingga akhirnya tombak El Primero mengenai Ferdinand dan seketika Ferdinand berteriak. Dalam teriakannya itu, tanpa sengaja Ferdinand menginjak setangkai bunga mawar. Adegan itu mengingatkan Ferdinand pada kebun bunga milik Nina. Melihat Ferdinand diam, El Primero berniat kembali menyerang Ferdinand, tapi Ferdinand lalu duduk dan tampak menurut pada El Primero.

Akhirnya, Nina dan Juan datang dan berteriak pada Ferdinand. Melihat Nina, Ferdinand kembali senang dan mereka berpelukan. Akhirnya, Moreno mengantar Ferdinand beserta kawanan banteng lainnya ke rumah Nina.

FERDINAND-《萌牛费迪南》
Ferdinand dalam aksi penyelamatan / Gambar via familystaycationsg.com

Yang paling membuat MF janggal adalah ketika pertama kali Nina memanggil nama Ferdinand. Tau darimana Nina kalau nama banteng itu Ferdinand? Emang Ferdinand yang ngomong? Atau Ferdinand nulis namanya? Kalau Nina emang kasih nama banteng itu Ferdinand, kok pas banget ya sama nama asli Ferdinand?

Cerita Ferdinand masih standar menurut MF, ada tokoh antagonis dan protagonis di sini. Tapi, tokoh Lupe menjadikan film ini makin terasa humornya. Tingkah kocak Lupe yang sebenarnya kita pikir, “Ngapain sih kambing dijadiin pelatih banteng?“, tapi itulah yang terjadi.

Ada satu scene nih yang menurut MF kurang, nggak ada di film tapi setidaknya ada di blooper. Itu scene waktu Ferdinand jatuh di atas mobil El Primo dan mobilnya penyok. Mungkin bakal jadi lucu ketika El Primo stres gara-gara mobilnya rusak. Tapi ternyata, scene ini nggak ada dan cuma ada gambarnya aja di belakang film.

Ngomongin soal lucu, sebenarnya kawanan landak juga lucu. Mereka nggak pernah mau menyebut nama salah satu saudaranya yaitu Tres. Tapi ketika landak-landak ini juga ikutan pindah ke rumah Nina, mereka bertemu Tres! Jangan ditanya wajah Tres kayak gimana karena nggak dikasih lihat wajahnya. MF jadi penasaran sama Tres.

Yang perlu MF garis bawahi, mungkin Ferdinand dibuat sebagai kritikan budaya bullfighting di Spanyol. Yap, sebenarnya kelompok pecinta hewan udah melarang bullfighting dan pembunuhan banteng di arena pertandingan, tapi yah gimana ya, orang-orang Spanyol masih mempertahankan pertandingan ini karena mereka merasa bahwa ini adalah budaya yang perlu dilestarikan.

Entah MF sendiri berada di pihak mana, di satu sisi bullfighting adalah budaya mereka, di sisi lain bullfighting membuat banteng tersiksa. Dulu sih MF mikirnya bullfighting ini cuma si banteng diganggu pake kain merah biar ngamuk ke matador, trus kejar-kejaran, udah gitu aja. Malah MF pikir kasihan si matador kalo jadi korban serudukan banteng. Tapi ternyata, bullfighting diakhiri dengan membunuh banteng yang bertanding itu.

Jadi awalnya, si matador muter-muter tuh, dan ada beberapa matador di sana. Pertandingan dilangsungkan dalam tiga babak. Babak pertama, matador memprovokasi banteng dengan mantel merah agar matador tau kekuatan dan kelemahan banteng. Trus babak kedua, ada matador yang menunggang kuda dan menggunakan tongkat tajam untuk melukai banteng dan memaksa supaya kepalanya tetap nunduk. Trus ada lagi yang memprovokasi banteng dengan menancapkan tiga tombak pendek ke punggung banteng. Nah, di babak ketiga ini baru deh matador bergerak mencoba menghindari serudukan banteng dengan kain merah. Di puncak pertandingan, diakhiri dengan matador yang membunuh banteng!

Mungkin MF nggak akan tega nonton pertandingan ini walaupun cuma 20 menit. Nonton sabung ayam aja takut apalagi nonton bullfighting. Kalau nonton pertandingan ini, MF mungkin bakal persiapan diri banget, nggak cuma persiapan diri karena takut nonton banteng dibunuh tapi juga persiapan diri nonton kalau misal matadornya yang justru mengalami kecelakaan. Banyak kok insiden matador kena tanduk banteng gitu. Ah ngeri.

Yah, mungkin emang banteng hewan buas, tapi setidaknya perlakukan mereka dengan baik toh mereka juga makhluk hidup. Kalau mereka tetap melaksanakan bullfighting dengan alasan mempertahankan warisan budaya, its okay. Tapi mungkin peraturannya bisa dimodifikasi supaya banteng dan matadornya nggak kesakitan.

Rating MF untuk Ferdinand 6,5/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s