Troso Festival, Kenalkan Warisan Budaya Melalui Fashion Show

Setiap daerah pasti memiliki keunikan tersendiri. Keunikan itu menjadi modal untuk dapat menarik minat wisatawan berkunjung ke daerah tersebut. Seperti salah satu daerah di Jepara, yaitu Troso. Sebagian besar orang mungkin sudah tidak asing lagi dengan nama Troso, kalau MF sih baru denger ini, hehe kudet banget ya >.<

Troso adalah salah satu desa di Kecamatan Pecangaan, Jepara. Desa ini adalah sentra produksi kain tenun. Kain tenunnya sudah di ekspor ke berbagai negara. Sepintas menurut MF sih motifnya seperti Ulos, bukan bermotif batik.

kain penutup piala
Kain Tenun Troso, ternyata itu untuk menutup piala (dokumentasi pribadi)

Ketika masuk di Desa Troso, atmosfernya udah beda. Sebenarnya bisa dikatakan kota sih, bukan desa. Troso lebih maju, perekonomian penduduk juga lebih maju terlihat dari banyaknya bangunan rumah yang sudah berdinding semen dan berpagar besi. Dan yang lebih membuat Troso terlihat seperti perkotaan adalah jajaran bangunan butik besar yang menjual kain tenun Troso di kanan dan kiri jalan.

Nah, untuk melestarikan budaya dan agar para warga Troso bangga dan senang dengan kain tenun Troso, pemerintah desa mengadakan Festival Troso. Festival Troso ini diselenggarakan dua hari, yaitu pada tanggal 15 – 16 Juli 2017.

Kalau MF lihat sih, festival ini mirip-mirip dengan Solo Batik Carnival ataupun Jember Fashion Carnival yang memamerkan kostum-kostum unik dengan ciri khas kain tenun Troso. Banyak sekali pengusaha kain tenun yang berpartisipasi di festival ini. Ya menurut MF sih ini bagus sebagai sarana promosi bisnisnya, kalau pengusaha itu dapat mengeluarkan desain yang bagus untuk festival, kemungkinan besar banyak yang akan suka dan order deh ke situ.

Di Festival Troso ini, para model harus berjalan dari titik start menuju panggung yang ada beberapa meter dari titik start. Kemudian para model harus berpose bak foto model memamerkan busananya. Entah dimana para model itu dinilai, MF kira mereka dinilai ketika berpose di panggung itu, ternyata di depan panggung yang seharusnya digunakan untuk duduk para penilai malah jadi rame gara-gara antusias warga yang ingin memfoto para model. Akhirnya jadi nggak karuan gitu posisinya. Banyak yang berdiri, yang penting kelihatan.

MF sendiri cukup kesulitan cari posisi yang pas untuk ambil foto, padahal itu udah di depan panggung banget. Yang bikin kesel bapak-bapak panitia yang ngatur foto itu, ngalangin modelnya, jadi malah doi yang banyak kefoto.

Para model mengenakan kain tenun Troso yang dipadukan dengan kostum yang beraneka macam, ada yang mengenakan kostum seperti Maleficent, ada yang kostumnya dihiasi sendok hingga menjulang tinggi, ada juga yang simple dengan kostum dari jerami, bahkan ada yang kostumnya sangat tinggi hingga mengenai atap panggung.

maleficent
Ini menurut MF kayak Maleficent (dokumentasi pribadi)

Yang membuat MF bingung, sepertinya setelah dari panggung itu para model langsung pulang nggak muter dulu kemana gitu, karena para warga hanya berkumpul di satu titik itu dan selebihnya dipagari. Kalau hanya berjalan – jalan seperti itu saja bagi MF cukup sepi, tidak ada musik pengiring atau apapun, jadi si model hanya jalan – jalan aja gitu. Kalau diiringi musik kan lebih meriah gitu kesannya, misalnya marching band atau musik – musik daerah yang mengiringi.

sendok
Unik ini pake sendok buat aksesoris (dokumentasi pribadi)

Untuk festival tingkat desa, Festival Troso MF rasa cukup besar acaranya. Itu tingkat desa loh, partisipan banyak dan antusiasme warga untuk menonton juga tinggi. Panitia juga banyak, bahkan MF masih banyak lihat ibu-ibu bapak-bapak yang jadi panitia, MF kira panitianya Cuma anak mudanya aja hehehe.

model
Salah satu model Festival Troso yang mewakili salah satu unit bisnis (dokumentasi pribadi)

Sejak acara belum dimulai, sudah banyak panitia yang berjaga mensterilkan jalanan. Sepintas baju panitia laki-laki mirip pecalang yang ada di Bali, lengkap dengan udeng-nya. Bedanya, mereka menggunakan kain Troso sebagai baju dan kain bawahnya (apa namanya mau sebut celana enggak, rok juga enggak).

Pukul 14.41 MF sampai di lokasi, ternyata acara belum dimulai. Cukup lama nunggu akhirnya dimulai juga. Festival dibuka dengan sekelompok marching band dari salah satu sekolah. Setelah itu, baru dibelakangnya diikuti oleh para model yang sudah berdandan dengan kain tenun Troso.

alam
Simple tapi menurut MF bagus, pakai jerami – jerami gitu (dokumentasi pribadi)

Dalam dua hari festival ini, tidak hanya diadakan arak-arakan kain tenun Troso, tapi juga diadakan bazaar. Beberapa stand berdiri untuk menjual produk dan memasarkan jasanya. Yang menjadi kunci utama festival ini adalah sebuah kain tenun Troso yang panjangnya mencapai beberapa ratus meter yang masuk dalam pencatatan Museum Rekor Indonesia (MURI).

Menurut MF, di Jepara, khususnya kecamatan Pecangaan, setiap desa sudah memiliki ciri khas tertentu. Misalnya saja desa Troso, yang memiliki ciri khas produk kain tenun Troso, di desa Rengging memiliki ciri khas produksi roti, dan di desa Gerdu memiliki ciri khas produksi telur asin, dan tentunya masih ada ciri khas desa yang lain.

Satu lagi yang unik, siang itu MF mau makan siang nih. Trus MF sama temen MF cari pecel, udah familiar lah sama makanan yang namanya pecel. Dari rekomendasi salah satu warga, MF ditunjukkan sebuah tempat di bawah pohon yang ada di desa Rengging. Warga itu bilang kalau itu pecel yang paling enak. Denger kata “paling enak” makin semangat cari donk ya, akhirnya meluncurlah MF kesana.

Tempatnya sederhana saja, hanya meja yang diletakkan di bawah pohon rindang, kemudian di atasnya tertata rapi bahan-bahan pecel lengkap. Yang menjual adalah seorang nenek-nenek yang mungkin usianya sudah 65 tahunan, tapi beliau masih terlihat cakap melayani pelanggan.

Satu yang membuat MF heran adalah karbohidrat pendamping pecel. Biasanya kan pakai nasi atau lontong, nah nenek ini pakai lontong dan orog – orog (entah bagaimana nulisnya tapi si nenek bilang seperti itu). Orog – orog ini terbuat dari sagu, warnanya abu – abu, waktu MF coba dikit rasanya kayak jelly. Beneran kayak jelly, tapi kering, kenyal – kenyal gitu teksturnya bahkan sampai agak susah ngunyah karena doi lari-lari terus di mulut.

Jpeg
Orog – orog (dokumentasi pribadi)

Akhirnya MF pilih pakai lontong aja sih hehehe. MF cuma belum terbiasa aja dengan rasa itu dipadukan dengan pecel.

Nggak lama, pesanan MF jadi. Murah banget! Satu porsi lontong pecel Cuma Rp 3.000. percaya atau enggak emang segitu harganya 😀

Untuk rasa, standar lah. Sebenarnya enak, tapi karena terlalu asin jadi gimana gitu. Porsi juga isinya banyak, bisa mengenyangkan kok. Yang penasaran coba pecel ini, datang aja ke desa Rengging. Sayangnya MF nggak tau nama nenek penjual ini siapa, jadi tanya aja ke orang – orang sekitar pecel yang pakai orog – orog atau pecel yang dijual di bawah pohon. Letaknya ada di dekat tikungan.

Dan beberapa hari kemudian, MF diundang ke salah satu pengajian yang diadakan warga. Warga diberi suguhan berupa bakso. Dan you know what guys? MF ketemu lagi sama si orog – orog ini 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s