Bubur Ayam mana Bubur Ayam!

Entah sejak kapan MF suka bubur ayam, sepertinya sejak MF kuliah jadi suka bubur ayam. Soalnya deket kampus ada bubur ayam yang enak, jadi MF ketagihan dah. Kebiasaan makan bubur ayam kebawa sampai ke Batu.

Setelah keluar stasiun kemaren nggak nemu bubur ayam, akhirnya hari ini MF memutuskan untuk berburu bubur ayam. Pagi ini, MF, Pikachu, dan Kurota, cari sarapan. Niat sih nyari bubur ayam, tapi jalan keluar perumahan sepi banget, nggak ada orang yang jual, sama sekali!

Trus tanya sama petugas kebersihan Jatim Park 2 yang kebetulan lagi nyapu jalanan. Mereka pun nggak tau ada yang jual bubur ayam di sini! Akhirnya, ada satu bapak yang tau tempat bubur ayam, “Di pasar ada bubur ayam, mbak”, katanya.

Langsung aja kita pergi ke pasar. “Pasarnya deket mbak, lurus aja 500 meter, nanti ada pertigaan belok kanan.”

Terdengar deket sih, akhirnya dengan semangat empat lima kami kesono. Jalanan masih sepi, angkutan juga masih dikit yang lewat. FYI nih, walaupun sini tempat wisata, tapi transportasi umum jarang lewat, buat traveller yang nggak bawa kendaraan pribadi, di sini banyakin jalan kaki aja deh. Kalau pengen ke banyak tempat dengan waktu singkat ya mending sewa kendaraan aja.

Beneran ini jauh banget, tapi demi bubur ayam, apa sih yang enggak!

Di pinggir jalan, kami nemu ada tulisan “Bubur Ayam” gede, rumah makan gitu. Wiih feeling bagus nih, eh taunya tutup. Yaudah jalan lagi menuju pasar berharap menemukan yang dicari. Akhirnya kita sampai di keramaian, iya di pasar. Entah hari apa ini tapi pasar rame banget, harapan makin kuat bubur ayam bakalan ada.

pasar
Pasar Kota Batu / Gambar via entitashukum.com

Sampai pasar kita cuma di sekitaran jalan aja, di pinggir jalan aja udah rame apalagi di dalam. Dan yang kami cari pasti ada di pinggir jalan, MF pikir gitu sih. FYI, di pasar Batu ini yang biasanya dijual di siang hari malah ada, misalnya nih es kelapa muda, bakso, kayak gitu-gitu yang biasa MF jumpai kalau siang, tapi di sini pagi-pagi udah dijual. Malah bubur ayamnya nggak ada!

Tanya bapak-bapak, katanya di deket rumah sakit, SMA, tau deh dimana, 500 meter lagi. Nggak lah, mending makan yang lain. Susah bener cari bubur ayam, mungkin di sini bubur ayam nggak terlalu disukai.

Akhirnya kami makan soto, rame banget. Lupa nama warung sotonya, hehehe. Pokoknya tendanya hijau kalo nggak salah, bapaknya yang jual pakai mobil box. Jadi lapaknya di mobil box itu. Soto koya, enak sih, asin gitu rasanya.

Kalau menurut MF ini pas, tapi bagi yang nggak terlalu suka kuah kental dan rasa asin yang kuat, mending nggak usah. Hampir sama dengan soto di Jawa Tengah, pakai sambal, kecap, tapi yang unik di soto ini nggak pakai jeruk buat rasa asamnya, melainkan pakai cuka. Tapi nggak merubah rasa jadi buruk kok, sama aja kan buat kasih rasa asem?

MF di sini pesan soto sama teh hangat. Tehnya di gelas kecil gitu, jadi agak kurang puas minumnya, hehe. Oh iya, entah waktu itu nggak ada atau bagaimana, tapi waktu makan nggak ada goreng-gorengan macam tempe goreng, perkedel, atau sate-sate macam sate ayam, sate telur, sate kerang, kayak di soto-soto yang MF jumpai. But, no problem guys, yang penting makan.

MF cuma makan soto, minum teh, sama kerupuk satu, dan total cuma Rp 10.000. Murah guys! Yang pengen makan pagi di sini boleh banget, tapi MF nggak jamin semua suka ya, selera beda-beda cuy! Hehehe….

Kelar makan, MF balik lagi ke penginapan. Bersiap untuk tour selanjutnya…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s